Kuliner Lokal Versus Global

makanan fast food

Pertengahan tahun 80 dan 90-an pertumbuhan dunia pangan di Indonesia diwarnai oleh berkembangnya restoran fast food ala barat yang menjamur.

Sebut resto ala Amerika seperti McDonald’s atau KFC yang menciptakan demand yang luar biasa. Kemampuan promosi dan “cuci otak” pola makan ala mereka sudah merasuk ke dalam otak bangsa Indonesia.

Makan ala fast food seperti mereka seolah mencapai level gaya hidup tingkat tinggi. Tak heran, anak-anak kecil lebih banyak menyeret orang tuanya untuk makan bareng-bareng ke restoran tersebut dibanding ke warung tradisional.

Pada tataran image, menyantap masakan resto ala barat menempati posisi tertinggi dibanding masakan tradisional. Bahkan menyantap masakan tradisional dianggap sebagai kelas bawah.

Meski realitas sebenarnya adalah restoran tersebut di negara asalnya justru tergolong “junk food”, tidak bermutu, justru di Indonesia mengalami “kenaikan” kelas.

Berbagai club, bentuk permainan, hadiah atau gimmick sengaja digelontorkan untuk anak-anak agar cuci otak bisa dilakukan sejak dini untuk menciptakan demand sepanjang masa.

Promosi dan propadanga super canggih tersebut tidak dilakukan untuk mengembangkan masakan tradisional.

Masakan tradisional seolah ada, namun tidak diapresiasikan dengan baik. Ditempatkan sebagai pelengkap. Sementara pada tahapan persepsi gaya hidup restoranala franchise barat diapresiasi demikian hebat.

Bentuk nyata dari presepsi marginal tersebut adalah berkembangnya semacam “ejekan”,  masakan tradisional sebagai makanan kelas bawah yang tidak bermutu, dan dianggap makanan rakyat jelata.

Pada saat itu, media kuliner baik itu media cetak maupun media elektronik tidak ada yang menyiarkan secara intensif kuliner tradisional yang diapresiasi.

Kenyataannya adalah iklan yang besar-besaran restoran franchise yang muncul di TV yang semakin mempengaruhi pemikiran anak-anak.

Tak heran jika banyak orang berbondong-bondong ke mall hanya untuk bisa makan dan duduk di restoran fast food (berlawanan dengan tujuan fast food sendiri yaitu cepat di sajikan dan segera pulang, malah berlama-lama duduk ngobrol).

Sekarang, makan di restoran fast food seolah-olah menjadi gaya hidup tingkat tinggi. Tidak jarang ditemukan bekas wadah restoran fast food disimpan sebagai kenang-kenagan dan bukti kalau dirinya pernah makan di restoran fast food tersebut.

Berkembangnya beberapa restoran ala luar negeri semakin merebak. Hotel-hotel berbintang cenderung menyajikan masakan dunia dibandingkan masakan Indonesia sendiri.

Mereka tidak berusaha dan tidak percaya diri untuk memperkenalkan masakan asal Indonesia jika ada tamu luar negeri yang datang.

Beberapa resto ala eropa semacam pizza, Spaggeti atau ala Jepang mulai menjamur dan seolah mengubah cara makan bangsa Indonesia.

Orang Indonesia berusaha mengubah pola makan dengan menyukai makan burger, ayan goreng, kentang goreng, sushi, keju, hot dog, dan berbagai masakan ala dunia lainnya.

Makanan tersebut selalu disajikan di kelas resto dan hotel. Masakan tradisional kaki lima jarang yang bisa masuk ala resto karena dianggap tidak laku.

Masakan tradisional tetap ada, hanya apresiasinya yang rendah. Para pengusaha masih ragu untuk mengusung masakan tradisional menjadi makanan resto karena takut tidak laku.

Padahal masakan tradisional tak kalah menariknya, tak kalah banyak penggemarnya.

Sampai sini, pasti Anda sudah tahu bagaimana efek sampir makan makanan fast food bagi diri kita dan keluarga kita.

Secara tampilan memang fast food terlihat lebih cantik. Akan tetapi kalau dilihat dari kemanfaatannya, makanan fast food kurang baik untuk tubuh, bahkan cenderung menjadi makanan sampah bagi tubuh kita.

Untuk konsumsi sehari-hari Anda, lebih baik mengkonsumsi makanan yang diolah sendiri dari bahan-bahan segar dan alami. Akan tetapi kalau Anda sebagai seorang wanita karir, Anda bisa menggunakan jasa catering harian seperti catering Bandung siap mengantarkan makanan Anda sampai ke rumah Anda.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *